Radarsulawesi.com, Kendari – Sabtu (11/10/2025) pagi hari, suasana Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) disemarakkan oleh gelaran Pawai Ta’aruf dalam rangkaian kegiatan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) Nasional ke-28 yang berlangsung di provinsi tersebut.
Acara yang dilepas secara resmi oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, ini diikuti oleh kafilah dari 38 provinsi di Tanah Air. Rute pawai dimulai dari titik Lapangan Benu-Benua, menyusuri jalan utama kota, dan berpuncak di kawasan Eks MTQ Kota Kendari (Tugu Religi) sebagai area penyambutan dan pembukaan resmi rangkaian STQH.
Warna-warni Budaya dan Semangat Persatuan
Setiap kafilah menampilkan ciri khas budaya daerahnya melalui pakaian adat, ornamen, tarian, dan kendaraan hias. Beberapa penampilan yang mencuri perhatian termasuk kontingen dari Papua Barat Daya yang membawa ornamen burung Cendrawasih, serta provinsi Riau yang menampilkan elemen budaya “pacu jalur” melalui mobil hiasnya.
Antusiasme warga Kendari sangat tinggi. Sejak pagi, masyarakat memadati sepanjang rute pawai, banyak yang datang bersama keluarga, menyaksikan dengan penuh rasa kagum dan kebersamaan.
Dalam sambutannya, Abu Rokhmad menyampaikan bahwa Pawai Ta’aruf bukan sekadar seremonial pembuka, tetapi menjadi simbol persatuan umat dan kerukunan antar daerah. Nilai-nilai Al-Qur’an, lanjutnya, diharapkan tidak hanya diperdengarkan dalam tilawah dan hadis, tetapi juga dihayati dalam praktik sosial di masyarakat.
Pengaturan Lalu Lintas dan Dukungan Operasional
Untuk mendukung kelancaran kegiatan, Dit Lalu Lintas Polda Sulawesi Tenggara melakukan rekayasa arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama selama pelaksanaan pawai dan upacara pembukaan malam nanti. Beberapa ruas ditutup sementara, dan petugas ditempatkan di titik-titik strategis untuk mengarahkan kendaraan umum dan pribadi.
Harapan dan Makna Filosofis
Sebagai tuan rumah, Sulawesi Tenggara menunjukkan kesiapan dan semangat mendukung penyelenggaraan STQH Nasional 2025. Tema besar STQH tahun ini adalah “Kerukunan dan Lingkungan,” yang menyiratkan harapan agar perhelatan keagamaan ini turut memperkuat nilai gotong-royong, kepedulian ekologis, dan toleransi antardaerah.
Pawai Ta’aruf yang meriah ini menjadi momentum awal yang penuh makna bagi seluruh rangkaian STQH. Dari sisi budaya, agama, hingga kebangsaan, acara ini meneguhkan bahwa dalam keberagaman, Islam tetap mampu menjadi tali pengikat persatuan. Negeri ini, kiranya, dapat terus berpegang pada nilai spiritual dan keindahan budaya dalam melangkah ke masa depan.
Editor: Redaksi













