Radarsulawesi.com, Muna – Wakil Bupati (Wabup) Muna, La Ode Asrafil Ndoasa, angkat suara menyusul unggahan viral dari seorang dokter di RSUD dr. H.L.M. Baharuddin yang menyoroti dugaan kekurangan alat operasi. Dalam video klarifikasi yang beredar, Wabup menyatakan bahwa tudingan tersebut tidak sepenuhnya benar dan lebih bersifat miskomunikasi.
Isu bermula dari postingan Instagram dokter spesialis kandungan, dr. Ruhwati Kadir, yang menyebut bahwa saat tiga pasien harus menjalani operasi SC (sectio cito) secara darurat, RSUD hanya memiliki dua set kain operasi steril yang siap pakai. Ia juga menuding bahwa jubah operasi dan kain penutup pasien sering kali tidak tersedia.
Wabup Asrafil, setelah melakukan pengecekan langsung ke rumah sakit, menyatakan bahwa “seluruh perlengkapan operasi tersedia lengkap dan sesuai standar.”ujar Asrafil, Sabtu (22/11/2025).
Menurut Wabup, persoalan muncul karena koordinasi yang kurang, terutama saat ada tiga pasien sekaligus yang akan dioperasi. Ia menegaskan bahwa RSUD sebenarnya memiliki tujuh set kain operasi, bukan hanya dua seperti klaim awal.
Direktur RSUD, dr. Muhammad Marlin, menyebut bahwa delay dalam menyiapkan alat atau kain operasi bukan karena ketiadaan, melainkan proses sterilisasi yang memang memerlukan waktu.
Wabup Asrafil mengimbau masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi viral sebelum ada klarifikasi resmi dari pihak rumah sakit. Ia menegaskan bahwa pelayanan RSUD harus tetap berjalan sesuai SOP.
Di kolom komentar media sosial, sejumlah netizen mempertanyakan kredibilitas klarifikasi yang disampaikan. Ada yang menyoroti apakah yang bicara sekarang benar-benar wakil bupati atau hanya “humas rumah sakit”: “Humas RS yang bicara kah ini?” komen akun @Ars_007
“tambahan tupoksi dari tugas beliau sebagai wakil bupati,”tulis akun @Nanta77.
Beberapa warganet menilai bahwa klarifikasi publik semacam ini penting, tapi menuntut juga transparansi lebih besar: misalnya dokumentasi inventaris alat, laporan sterilisasi, atau audit independen fasilitas.
“Harus tetap di apresiasi, beliau berusaha menjelaskan hal yang tidak dipahami dan di alami dokter bedah, beliau sebatas mendengarkan keterangan yang meyesatkan dari manajemen RSUD. Narasinya belok2, sesuai profesi tambahan beliau sebagai Juru Bicara Manajemen RSUD,”tambah akun @Nanta77.
Laporan viral ini muncul bersamaan dengan sorotan lebih luas soal reputasi RSUD Muna, terutama terkait akreditasi dan anggaran.
Pihak Pemkab Muna, melalui Wabup, menunjukkan niat untuk meningkatkan koordinasi internal agar insiden serupa tidak terulang.
Klarifikasi Wabup Muna menegaskan bahwa tudingan kekurangan alat operasi di RSUD bukan sepenuhnya benar, melainkan masalah koordinasi dan prosedur sterilisasi. Namun, reaksi netizen menunjukkan bahwa publik masih menaruh keraguan, terutama soal akurasi informasi dan transparansi rumah sakit.
“Orang yang tinggal dalam rumah tidak mungkin tidak tau isi dalam rumah itu ,”tulis netizen.
Editor: Redaksi







