Radarsulawesi.com – Intensitas hujan yang tinggi selama beberapa pekan terakhir memicu bencana banjir di sejumlah wilayah di Sumatra, termasuk Aceh dan Sumatera Barat. Hingga kini ratusan korban dilaporkan meninggal, Ribuan warga terpaksa mengungsi, rumah-rumah terendam, akses jalan terputus, dan kebutuhan logistik mendesak terus bertambah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan kabar terbaru soal korban banjir dan longsor di Sumatera Utara (Sumut), Aceh dan Sumatera Barat (Sumbar). Hingga Selasa (9/12/2025), jumlah korban tewas bertambah tiga orang sehingga totalnya menjadi 964 jiwa.
“Untuk detil umum kami sampaikan bahwa, hasil pencarian dan pertolongan hari ini, itu mendapatkan tambahan jasad yang ditemukan dari total 961 korban meninggal dunia di hari Senin (8/12/2025), pada hari ini bertambah tiga,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers virtual.
Melihat kondisi ini, Islam Selamatkan Negeri (ISN) yaitu sebuah lembaga amil zakat dan kemanusiaan lokal di Indonesia yang sering menggalang dana untuk korban bencana alam (banjir, longsor) dan program sosial lainnya mengajak seluruh masyarakat untuk ikut bergerak dalam aksi kemanusiaan melalui program Peduli Korban Bencana Sumatra.
Bersama ISN. Program ini dibuka untuk menggalang bantuan guna meringankan beban para penyintas banjir.
Alhamdulillah, ISN Aceh kini beroperasi di 6 titik posko: Banda Aceh – Lhokseumawe – Langsa – Bener Meriah – Takengon – Gayo Lues .
Setiap posko adalah tempat kita menyalakan harapan bagi saudara-saudara yang hari ini kehilangan rumah, pakaian, makanan, bahkan tempat untuk sekadar berbaring dengan tenang.
Allah mengingatkan kita dengan jelas “Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Maka saat ada saudara yang sedang menenggelamkan tangis dalam air bah, apakah kita akan membiarkan tangan kita tetap di saku? Di saat ada ibu yang merintih karena anaknya belum makan, bisakah kita tidur nyenyak tanpa peduli?
Kini waktunya bergerak. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak harus menunggu lapang. Sedikit dari kita, besar bagi mereka. Satu transfer, satu kantong beras, satu selimut — bisa menjadi penyambung hidup malam ini.
Mari jadikan ayat itu nyata.Bukan hanya dibaca, tapi dihidupkan. Kita ta’awun — kita turun tangan — kita bantu mereka.
Editor: Redaksi







