Radarsulawesi.com, Kendari – Mental health, sebuah isu yang terus bergulir di tengah masyarakat tidak terkecuali pada generasi muda. Hal ini tidak bisa dianggap sepele apalagi dipandang sebelah mata, karena sudah banyak memakan korban jiwa. Seperti dilaporkan oleh Kompas.id, (Senin, 3 November 2025), sejumlah anak usia SD hingga SMP ditemukan bunuh diri dengan berbagai alasan dalam kurun waktu 2025.
Beberapa kasus diantaranya adalah seorang siswa kelas VIII sekolah menengah pertama (SMP) di Sawahlunto, Sumatera Barat, ditemukan tak bernyawa di ruang kelas, Selasa (28/10/2025) siang. Sebelumnya, siswa kelas IX di SMP lain di Sawahlunto ditemukan tergantung di ruang OSIS, Senin (6/10/2025) malam.
Kenapa hal ini terjadi?
Sistem Pergaulan Sekuler yang Sesat!
Berbagai kondisi bisa menjadi pemicu seseorang mengalami mental health. Kasus bullying yang marak terjadi di kalangam pemuda menjadi salah satu faktor yang menyumbang banyaknya kasus bunuh diri pada remaja.
Sistem sekuler yang menjauhkan manusia dari aturan agama telah mencaplok akhlak seorang manusia, hingga hilang adab terhadap sesama rekan sebayanya.
Anak-anak hari ini banyak meletakkan pandangan mereka terhadap materi sehingga dengan mudah mem-bully kawannya tanpa memperhatikan kondisi mental kawan yang mereka bully.
Kesetaraan diletakaan atas dasar kesamaan materi bukan pada pandangan akidah. Banyak anak yang lupa potensi mereka hidup sebagai seorang hamba sehingga wajar ketika perbedaan materi menjadi sesuatu yang harus didebat.
Generasi Sekuler, Krisis Identitas!
Hilangnya empati dalam diri anak muda hari ini menjadi bagian yang menjelaskan bahwa generasi sekuler memgalami krisis identitas. Padahal, manusia diciptakan di dunia hanya untuk beribadah kepada Allah Swt.
Hilangnya figur yang bisa dijadikan contoh yang baik juga adalah dampak rusaknya adab dan akhlak generasi dalam sistem sekuler hari ini. Tontonan yang ada tidak bisa dijadikan sebagai tuntunan untuk menciptakan generasi beradab dan berakhlak baik.
Rusaknya kehidupan sekuler telah menyeret generasi pada masalah-masalah sosial yang menyimpang seperti bullying, pergaulan bebas, dan masalah sosial lainnya.
Generasi kehilangan arah, bingung harus mencontoh figur mana yang bisa dijadikan tuntunan mereka, karena tontonan yang ada malah merusak mental dan identitas mereka sebagai agen peradaban.
Di samping itu, keimanan individu semakin rapuh, ketika punya masalah bukannya datang ke Allah manusia malah mencari jalan pintas yang mengarah pada kemaksiatan.
Hukum Sekuler, Menyiksa Rakyat!
Berbagai masalah sosial yang terjadi di tengah masyarakat adalah hadil penerapan sistem sekuler yang rusak. Sistem ini telah menjauhkan manusia dari Allah sehingga manusia menjadi semakin hilang arah tak tau jalan pulang yang benar. Hukum sekuler sangat mudah berubah sesuai keinginan pembuatnya. Ketika hukum Allah sudah dijauhkan maka di situlah letak kesengsaraan.
Islam Selamatkan Mental Generasi!
Manusia sebagai makhluk Allah wajib terikat pada hukum syariat. Setelah Allah menetapkan hukum atas suatu perkara maka tidak ada lagi alasan untuk berdebat.
Islam sebagai ideologi mampu meberikan solusi atas setiap permasalahan kehiduoan dengan cara yang sesuai fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Segala permasalahan kehidupan akan dikembalikan pada aturan syariat yang berlandaskan akidah Islam.
Tentang masalah pendidikan generasi, Islam punya kurikulum yang mampu mendidik generasi agar lahir sebagai generasi yang berkepribadian Islam, berakhlak mulia dan menhargai sesama.
Ilmu agama tidak sekaledar ilmu di atas kertas melainkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, negara memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi umat dari masalah mental health yang dapat merusak generasi. Allahu’alam.
Penulis: Zulhilda Nurwulan, M. A.
Editor: Redaksi




![IMG-20250117-WA0032[1]](https://radarsulawesi.com/wp-content/uploads/2025/01/IMG-20250117-WA00321-300x178.jpg)


